the blair witch project

Cara The Blair Witch Project Hasilkan 4083X Return On Investment

Menurut anda film apa yang menghasilkan return on investment paling tinggi sepanjang sejarah? Jawabannya bukan Titanic, bukan juga The Avengers. Jawabannya adalah The Blair Witch Project, sebuah film independen yang dirilis tahun 1999. Biaya produksi filmnya hanya 60.000 US Dollar atau 840 juta rupiah saja. Dan anda tahu berapa uang yang dihasilkan dari penjualan tiketnya? 245 juta US Dollar atau setara 3,4 Triliun Rupiah.

Jadi ROI (Return On Investment) film itu adalah 4083 kali lipat atau 408.300 %. The Blair Witch Project menghadirkan sebuah inovasi radikal yang bukan hanya menjadi bahasan dalam industri perfilman dan industri lainnya, namun juga jadi kajian seru di kampus-kampus di seluruh dunia. Dalam artikel ini kita akan kupas rahasia yang melahirkan sukses besar The Blair Witch Project. Tujuannya supaya Anda dapat mengaplikasikan formula yang sama di perusahaan anda.

the blair witch project
The blair witch project

Mystery of The Blair Witch Project

“Di Oktober 1994, tiga mahasiswa film menghilang di hutan dekat Burkittsville Maryland ketika sedang mengambil gambar untuk sebuah film dokumenter. Satu tahun kemudian, rekaman video mereka ditemukan.”

Itu adalah Kalimat pembuka film bertajuk the Blair Witch Project sebuah film independen yang diluncurkan pertama kali di Amerika Utara di pertengahan tahun 1999 dan kemudian menyebar ke seluruh dunia di akhir tahun yang sama. Di luar dugaan produsernya sendiri, film ini menjadi blockbuster hit dunia yang menjadikannya sebagai film independen paling sukses sepanjang masa. Luar biasa kan ya? Bagaimana dengan kualitas filmnya?

Nah, ini yang menarik! Situs film review terkenal IMDb memberikan the Blair Witch Project rating 6,4 dari 10. The Blair Witch Project juga mendapatkan Worst film Awards dari 20th Golden Raspberry Awards. Seburuk itukah filmnya? Bayangkan saja ya, film itu dibuat hanya dengan menggunakan Hi8 video kamera. Sebuah camcorder yang biasa digunakan untuk merekam video rumahan pada saat itu.

Sang aktor yang memegang kamera sepanjang film baru diajari cara menggunakan kamera itu dua hari sebelum syuting dimulai. Sebagian besar gambar goyang parah karena banyak gambar diambil sambil aktornya memegang kamera itu berlari-lari. Lalu bagaimana mungkin film seburuk itu bisa jadi film independen terlaris sepanjang masa? Nah ini yang menarik. Mau tahu rahasianya? Rahasianya ada pada visi sang pembuat film dan kepiawaiannya dalam mengintegrasikan desain produk dan kemasan marketing.

Baca Juga :  Inilah Cara Membuat Nota Di Word

Tiga hal ini menjadi kunci keberhasilan bisnis apapun sebenarnya ya. Termasuk bisnis yang saat ini tengah anda geluti. Dalam banyak perusahaan termasuk perusahaan film, produksi dan marketing dilakukan oleh dua departemen yang berbeda. Bahkan kadang dua perusahaan yang berbeda. Tim produksi fokus pada mendesain dan membuat produk yang terbaik, kemudian produk yang sudah jadi dilempar ke bagian marketing untuk kemudian memikirkan dan mengeksekusi cara terbaik mempromosikan produk itu.

the blair witch project
The blair witch project

Designing The Blair Witch Project

Tidak dengan film The Blair Witch Project, Daniel Myrick dan Eduardo Sánchez penulis sekaligus sutradara film tersebut sudah memikirkan bagaimana integrasi keduanya yaitu produksi dan marketing, enam tahun sebelum film itu diluncurkan. Selama itu pula mereka konsisten dan all out dalam menjalankan rencananya tersebut. Visi mereka sederhana, mereka ingin membuat film fiktif bergenre horor yang disajikan dengan gaya dokumenter supaya penontonnya percaya bahwa semua yang ada dalam film itu merupakan gambar dari kejadian yang sesungguhnya.

Hal itu didasari pada keyakinan mereka berdua sang sutradara dan penulis cerita itu bahwa video dokumentasi tentang kejadian menakutkan yang benar-benar terjadi itu berkali-kali lebih menakutkan dibandingkan menonton film horor fiktif yang penontonnya tahu bahwa itu cuma kisah rekaan saja. Maka di tahun 1993 proyek film The Blair Witch Project dimulai. Myrick dan Sánchez memulainya dengan mengembangkan sebuah legenda fiktif tentang Blair Which, penyihir Blair. Selain menulis ceritanya mereka pun mencari lokasi yang tepat.

Mereka menemukan sebuah hutan dekat Burkittsville, negara bagian maryland yang sesuai dengan imajinasinya tentang Blair Witch. Bukan hanya suasana hutannya, melainkan juga orang-orang yang tinggal di sana bahkan memiliki cerita misteri tentang hutan itu. Berbeda dengan kebanyakan skenario film lainnya yang tebalnya hingga ratusan halaman. Skenario yang dibuat Myrick dan Sánchez tebalnya hanya 35 halaman saja. Pada dasarnya skenario itu hanya berisi plot cerita, uraian adegan demi adegan yang diimbuhi dengan catatan.

Dialog dilakukan secara improvisasi disesuaikan sesuai dengan situasi. Nah, agar bisa menghasilkan gambar dialog dan ekspresi aktor yang semakin mendekati situasi yang sesungguhnya seperti dalam imajinasi sang sutradara, maka para aktor yang memainkan peran sebagai mahasiswa film yang sedang membuat film dokumenter dilepas di dalam hutan selama delapan hari. Saat itulah proses syuting dimulai.

Baca Juga :  Squid Game, Game Theory Dan Ilusi Persaingan Bisnis
the blair witch project
The blair witch project

Mereka dibekali kamera Hi8 untuk merekam kejadian-kejadian di sekitar mereka. Dan yang menimpa mereka selama delapan hari itu serta makanan secukupnya seperti layaknya mahasiswa yang tengah menjalankan project film dokumenter di dalam hutan. Mereka diberikan petunjuk harus pergi ke lokasi selanjutnya melalui pesan yang dimasukkan kedalam kaleng yang bisa ditemukan menggunakan GPS. Para aktor tersebut tidak tahu bahwa lokasi hutan sudah diset sedemikian rupa untuk mendukung cerita dan suasana Legenda Blair Witch.

Aktor-aktor lain juga sudah ditanam di lokasi untuk menghidupkan legenda tersebut serta mendorong cerita kearah yang diinginkan oleh sang sutradara. Bahkan ketika malam datang dan para aktor harus berkemah di hutan, sang sutradara sengaja membuat bunyi-bunyian yang misterius yang membuat para aktornya benar-benar ketakutan. Bahkan konon katanya sang sutradara pun sengaja membatasi makanan yang di bawa para aktor untuk membuat mereka kelaparan.

Alhasil para aktor benar-benar merasakan dan mengalami kejadian-kejadian menakutkan layaknya karakter yang mereka perankan. Kamera Hi8 yang mereka pegang merekam semua interview dengan warga, semua dialog antar pemain, dan semua kejadian-kejadian menyeramkan yang terjadi di hutan itu selama delapan hari. Semua proses produksi dilakukan untuk memastikan bahwa footage yang diambil benar-benar tampak seorisinal mungkin layaknya kejadian nyata yang menyeramkan yang terekam dalam sebuah video.
Gaya sinematografi seperti ini kemudian menjadi populer dengan istilah found footage teknik. Nah, 20 jam rekaman video yang dihasilkan para aktor kemudian dipilih dan disunting hingga hanya menjadi 82 menit saja agar layak ditayangkan di bioskop. Oke itu baru dari sisi produksi, sekarang dari sisi marketing.

the blair witch project
The blair witch project

Marketing The Blair Witch Project

Sebelum film ditayangkan di bioskop, produser film The Blair Witch Project membuat sebuah mockumentary. Cerita fiktif yang dikemas layaknya film dokumenter. Judulnya The Curse of The Blair Witch yang ditayangkan di televisi nasional. Selain memberikan backstory dari film, mockumentary itu bertujuan untuk membangun isu tentang legenda Blair Witch.

Kemudian mereka membuat poster tentang orang hilang menampilkan foto dari tiga aktor film dengan detail lokasi terakhir terlihat di hutan dekat Burkittsville. Poster ini sengaja disebar meluas di kota dimana film diputar. Blair Witch Project adalah film pertama yang memanfaatkan internet secara penuh untuk promosi. Dalam upaya menciptakan nuansa realisme atas legenda Blair Witch, sutradara membuat website yang berisikan laporan polisi tentang tiga mahasiswa yang hilang serta interview warga bergaya newsreel tentang kejadian-kejadian misterius yang ada di hutan dekat Burkittsville. Di website itu juga ditampilkan interview polisi setempat yang bicara tentang kasus yang mereka tangani terkait hilangnya ketiga mahasiswa.

Baca Juga :  Macam-Macam Asuransi Kecelakaan Lalu Lintas Yang Bisa Jadi Pilihan

Semuanya dibuat seperti seolah-olah kejadian itu benar-benar nyata. Bahkan gilanya lagi selama tahun pertama pemutaran film, di IMDb website yaitu situs online database film tertulis bahwa para pemain yang ada di film Blair Witch Project missing assumed dead, hilang diasumsikan meninggal. Totalitas produser film dalam memasarkan legenda Blair Witch berbuah manis. USA Today menetapkan The Blair Witch Project sebagai film pertama yang go-viral, meskipun teknologi yang memfasilitasi terjadinya viral pada masa itu belum diciptakan.

the blair witch project
The blair witch project

Create Your Blair Witch

Nah itulah rahasia dibalik keberhasilan film independen The Blair Witch Project. Visi berani yang keluar dari pakem dan integrasi total produksi dan marketing sejak awal. Sebuah Kombinasi yang kini semakin langka ditemukan di perusahaan-perusahaan besar di sekitar kita. Jarang sekali kita temukan visi produk yang menantang imajinasi. Mereka lebih suka memilih formula yang pasti-pasti aja, saling mencontek dan menduplikasi produk populer dari perusahaan lainnya. Keberanian mendobrak pasar telah terkubur dalam hitungan angka-angka diatas spreadsheet. Demikian juga integrasi total antara produksi dan marketing.

Itu hanyalah kisah dongeng yang tersaji apik dalam buku-buku tebal di kampus-kampus yang kini semakin sulit kita temui di dalam dunia nyata. Jika anda benar-benar ingin membangun karya Masterpiece, ingin menghadiahkan lompatan nilai yang fenomenal untuk semua stakeholder Anda. Mulailah dengan mengizinkan diri anda untuk berimajinasi. Keluarlah dari jebakan mediocrity, beranikan diri anda untuk melangkah diluar Pakem industri.

Kemudian satukan tim produksi dan marketing anda dengan visi bersama yang menggugah, yang menggerakkan, yang mengikat langkah. Asah ikatan itu dengan gairah yang tak kunjung padam. Jika anda mampu lakukan itu, maka sesungguhnya anda telah menanam bibit keajaiban di perusahaan anda. Tidak mudah? pasti. Tidak ada yang mudah dari sebuah mahakarya. Namun bukankah justru itulah kenapa sebuah mahakarya layak kita perjuangkan.

Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat ya!