Permainan Lego

Bisnis Permainan LEGO Pernah Hampir Bangkrut Karena Terlalu Nafsu Berinovasi

Tahukah anda bahwa perusahaan Lego yang terkenal itu pernah hampir bangkrut gara-gara terlalu nafsu berinovasi? Ya betul sekali, ternyata berinovasi itu enggak bisa asal. Tidak boleh terlalu nafsu juga dan ada pakem-pakemnya. Hanya karena anda punya uang banyak dan orang-orang terbaik tidak menjamin bahwa inovasi yang anda buat akan menghasilkan keuntungan bisnis. Jadi harus seperti apa proses inovasi itu? Yuk kita temukan jawabannya dari kisah naik turunnya bisnis permainan Lego di artikel berikut ini.

Permainan Lego
Permainan LEGO

Sejarah Bisnis Permainan LEGO

Kita mulai Ceritanya dari awal tahun 1932 Ole Kirk Chiristiansen seorang tukang kayu yang gagal dalam bisnisnya memutuskan untuk menggunakan keahliannya untuk membuat mainan dari kayu. Usahanya itu lumayan berjalan dengan baik Lego pun lahir di akhir tahun 1940. Kristiansen memutuskan untuk investasi di teknologi injeksi cetak plastik untuk membuat mainannya menjadi lebih murah. Sayangnya inisiatifnya itu belum bisa membuat Lego berkembang seperti yang ia inginkan.

Permainan Lego
Ole Kirk Chiristiansen

Hingga di tahun 1950 Godtfred anak Kristiansen menemukan ide untuk membuat mainan yang bisa disambungkan satu dengan lainnya menggunakan sistem interlocking yang kuat. Lahirlah Lego seperti yang kita kenal sekarang. Hebatnya permainan Lego ini adalah ketika seseorang membeli set yang kedua maka dia tidak hanya menambah jumlah mainannya melainkan melipatgandakan permainannya, karena setiap potongan bata dari set kedua bisa dikombinasikan dengan set pertamanya sehingga menciptakan mainan baru sesuai imajinasi si pemain. Inovasi Inilah yang disebut dengan Lego sistem dan dipatenkan pada tahun 1958.

Lego kemudian mengeluarkan minifigure atau orang-orangan yang dibuat nyambung dengan Keseluruhan sistem Lego. Kehadiran minifigure ini membuat pengalaman memainkan Permainan Lego menjadi lebih imajinatif dengan beragam set mainan bertema ruang angkasa, istana, bajak laut dan koboi kini anak-anak bisa menciptakan jalan cerita permainannya sendiri. Sebagai sebuah bisnis Lego pun berkembang dengan pesat hingga tahun 1993 Lego tumbuh 14 persen per tahun selama 15 tahun. Artinya ukuran perusahaan Lego berkembang dua kali lipat setiap lima tahun sekali inilah zaman keemasan Lego.

Baca Juga :  Zoho vs Salesforce : Takklukan Industri Tanpa Dukungan Investor!

Hingga sejak itu hingga 1998 Lego mulai bergerak pelan hingga akhirnya stagnan sepertinya Lego telah mencapai siklus hidup maksimum produknya manajemen Lego pun berupaya untuk mendongkrak pertumbuhan dengan cara menambah jumlah produksinya hingga tiga kali lipat. Sayangnya penjualan tetap stagnan sementara biaya besar sudah terlanjur keluar. Tahun 1998 Lego pun untuk pertama kalinya melaporkan kerugian usaha. Kejadiannya diperburuk dengan jatuhnya nilai mata uang Danish kroner terhadap Dollar, selain itu produsen mainan pesaing mulai mengalihkan produksinya ke China.

Hal itu membuat Lego tidak bisa menang bersaing dari sisi harga terhadap para pesaing dalam kondisi seperti ini manajemen Lego terpaksa memecat 1000 karyawan agar perusahaan bisa tetap bertahan. Lego harus berjuang untuk bangkit kembali dan merupakan saatnya Lego melakukan inovasi secara lebih agresif. Lego kemudian merekrut 30 inovator muda dari sekolah desain terbaik di seluruh benua Eropa mereka ditantang untuk membuat lini produk baru permainan Lego dari situlah kemudian lahir banyak sekali produk baru seperti Lego Znap, Primo, Scala dan Wars melihat pesaing yang sedang panas-panasnya membuat mainan action figure.

Lego pun juga tidak mau kalah. Maka Lego membuat produk serupa yang diberi nama Jack Stone Yang bisa dibangun kurang dari 10 menit, ada juga produk bernama explore yang ditujukan untuk balita yang tidak memerlukan konstruksi sama sekali. Produk yang paling digadang-gadang manajemen saat itu adalah Lego Galidor, mainan action figur yang dilengkapi elektronik. Galidor bahkan memiliki TV show nya sendiri yang memberikan konteks cerita pada mainannya. Upaya marketingnya pun tidak tanggung-tanggung melibatkan jaringan franchise McDonald’s. Disini sudah bisa kelihatan betapa Desperatenya Lego dan desperation itu mendorong Lego untuk berinovasi secara membabi-buta.

Permainan Lego
Permainan LEGO

Jatuh Bangun Bisnis Permainan Lego dan Lego Mulai Bangkit

Nah sekarang menurut anda bagaimana hasilnya? Apakah beragam inovasi itu berhasil mengangkat Lego dari stagnasi? Ternyata semua produk yang disebut tadi gagal di pasaran. Para inovator muda yang direkrut Lego sama sekali tidak punya pengalaman. Di industri mainan mereka juga tidak memahami para pelanggan Lego dan apa yang membuat mereka menyukai permainan Lego itu. Ditangan mereka jumlah jenis potongan bata Lego meningkat dari 6000 jadi 12000 menciptakan mimpi buruk untuk urusan logistik dan inventory tanpa diimbangi dengan peningkatan penjualan.

Baca Juga :  8 Kata Kata Motivasi Kerja Karyawan yang Ampuh Meningkatkan Semangat Bekerja

Selain itu beragam produk permainan Lego yang saya sebut tadi tidak bisa saling terhubung karena tidak menggunakan sistem interlocking yang sama. Produk satu dengan lainnya hanya menambah enggak melipatgandakan pengalaman bermain. Pada saat itu manajemen bahkan tidak tahu berapa harga produksi dari produk yang baru mereka jual. Tanpa disadari Mereka menjual mainan dengan harga dibawah harga produksinya beragam produk baru yang digadang-gadang dapat mengeluarkan Lego dari stagnasi justru jadi jalan menurun panjang untuk bisnis Lego.

Permainan Lego
Permainan LEGO Bionicle

Inovasi Lain Dari Lego

Saat itu lego juga berinovasi menciptakan Legoland sebuah Themepark yang ingin menandingi Disneyland. Sayangnya manajemen Lego tidak memiliki keahlian yang memadai untuk mengelola sebuah Themepark. Legoland akhirnya jadi beban bagi bisnis dibandingkan membawa keuntungan. Legoland akhirnya dijual ke Blackstone Investment Group di tahun 2005.

Tentu tidak semua produk Lego gagal, ada tiga produk Permainan Lego yang meledak di pasar saat itu yaitu Lego Star Wars, Lego Harry Potter dan Bionicle. Efek dari kesuksesan kedua film Blockbuster tersebut berdampak pada penjualan Lego yang bertema sama. Sayangnya begitu efek Hipe dari filmnya habis ya demikian pula penjualan Legonya ikutan habis. Hanya penjualan Lego bionicle yang bagus terus .Bisa dikatakan bahwa Lego Bionicle ini akhirnya menjadi produk yang bisa membuat perusahaan Lego terus bertahan ditengah bisnis yang menurun.

Ternyata terlalu nafsu berinovasi justru membuat perusahaan Lego hampir bangkrut. Jadi Apakah artinya Lego harus berhenti berinovasi di industri yang siklus hidup produk nya pendek. Jelas Lego harus tetap berinovasi. Hanya kali ini Lego tidak bisa membabi buta, Lego harus cerdas menentukan fokus dan batasan inovasinya.

Permainan Lego
Permainan LEGO Legoland Themepark

Solusi Lego dan Kembali ke Akar Permasalahannya

Manajemen Lego kemudian memutuskan untuk kembali ke akarnya, kembali pada apa yang membuat pelanggan fanatik Lego menggandrungi Lego. Mereka disebut dengan “The Builders”. Sebutan untuk anak-anak dan orang dewasa yang mendapat kesenangan dari membangun sesuatu yang kreatif dari potongan bata Lego dalam sistem yang bisa saling terhubung. Selain itu manajemen Lego juga menentukan batasan apa saja yang boleh dibuat dan apa yang tidak boleh. Para designer tidak bebas membuat apapun produk yang mereka anggap bagus. Ada semacam palet yang jadi panduan design. Palette ini memastikan bahwa setiap potong bata benar-benar ada dalam sistem Lego yang bisa saling terhubung.

Baca Juga :  Disrupsi Industri Dengan Inovasi Fast Fashion Oleh Zara

Palet ini dibuat berdasarkan apa yang sudah terbukti diminati oleh pelanggan Permainan Lego dengan palet ini manajemen memastikan terjadinya efisiensi karena dengan jumlah jenis bata yang terbatas mereka bisa memproduksi secara massal. Tidak ada lagi bata Lego yang nyempal dan tidak bisa digunakan secara maksimal.

Ini bukan berarti Lego berhenti berinovasi lho ya. Buktinya Lego mengeluarkan produk baru yang disebut dengan Legends of Chima yaitu produk yang fokusnya pada cerita dan juga ada Lego Friends yang diperuntukkan untuk anak perempuan. Ada risikonya memang tapi kenyataannya produk ini akhirnya dianggap berhasil.

Apa rahasianya walaupun menyasar pangsa pasar yang berbeda, Lego Friends tetap bertumpu pada formula keberhasilan yang sama yaitu kesenangan membuat sesuatu yang kreatif menggunakan potongan bata yang bisa saling tersambung.

Bahkan ketika Lego memutuskan untuk membuat game komputer dan konsol tetap saja gameplaynya membutuhkan pemain membangun virtual break atau Bata virtual yang dalam game layaknya mereka memainkan Lego di dunia nyata. Keuangan Lego akhirnya berbalik positif penjualannya naik drastis profit juga ikut naik.

Lego menjadi produsen mainan terbesar ketiga di dunia dengan produk yang tersebar di 130 negara jika dibagi habis ke seluruh penduduk bumi maka setiap orang akan mendapatkan 62 potong Lego Bricks. Jika semua potongan bata Permainan Lego tadi disusun berurutan maka dapat mengelilingi permukaan bumi sebanyak lima kali. Wow! anak-anak di dunia menghabiskan waktu lima miliar jam per tahun memainkan bata Lego.

Permainan Lego
Permainan LEGO

Penutup

Jadi apa yang kita pelajari dari kisah Permainan Lego ini ? Inovasi itu jelas nggak bisa asal. Inovasi butuh fokus dan batasan yang jelas. Tanpa itu maka apa yang Anda pikir itu inovasi sesungguhnya hanya kreativitas yang tidak membawa keuntungan apa-apa.


Bagaimana anda akan manfaatkan informasi pengetahuan ini untuk perusahaan maupun bisnis anda? Saya percaya anda sudah menemukan jawabannya. Semoga bermanfaat!

Baca Juga : Toyota Way vs Tesla Way ,Apakah Toyota Way Mulai Usang?